pengawasan kantor

![]() |
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
||||

A. SISTEM PENGAWASAN KANTOR
1. Pengertian Pengawas
Menurut Henri Fayol “Pengawasan ialah suatu usaha yang terbagi menjadi memantau apakah segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan dengan rencana yang telah ditentukan, petunjuk yang telah dibagikan atau diberikan, dan prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Sangat penting
untuk mengetahui kesalahan yang terjadi guna untuk diperbaiki dan dicegah agar
tidak terulang kembali.”
Menurut EFL Breach “Pengawasan merupakan perbandingan atas kinerja
pada saat tertentu terhadap standar yang telah ditetapkan yang mengandung dalam
rencana dengan tujuan agar memastikan apakah kinerjanya telah sesuai dengan
harapan.”
Dan menurut Admosudirdjo
(dalam Febriani, 2005:11) mengatakan bahwa pada pokoknya pengawasan adalah
keseluruhan daripada kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa yang sedang
atau sudah dilaksanakan dengan kriteria, norma-norma, standar atau
rencana-rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pengawasan
adalah segenap kegiatan untuk meyakinkan dan menjamin bahwa tugas/pekerjaan
telah dilakukan sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan, kebijaksanaan
yang telah di gariskan dan perintah ( aturan ) yang di berikan.
Biasanya seorang pengawas dipandang
sebagai dibawah tingkat pemimpin. Pekerjaan pengawas adalah sama dengan
pekerjaan pemimpin, tetapi ruang lingkup pekerjaan, masalah-masalah atas mana
keputusan-keputusan harus dibuat, dan pekerjaan memimpin secara keseluruhan
adalah tidak sama luasnya.
Kita mengenal
pengawasan preventif dan pengawasan repressif. Pengawasan preventif adalah
pengawasan dengan mengadakan peraturan-peraturan untuk menjaga atau untuk
menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan, pengawasan sebelum pekerjaan
dilakukan. Pengawasan repressif adalah pengawasan di belakang, pengawasan
setelah
pekerjaan dilakukan. Pengawasan yang
dilakukan dalam perkantoran memiliki tujuan dan manfaat bagi keberlangsungan
organisasi perusahaan.
Adapun tujuan dari pengawasan dan manfaatnya adalah
sebagai berikut :
Tujuan Pengawasan
1.
Meningkatkan
kinerja organisasi secara kontinu, karena kondisi persaingan usaha yang semakin
tinggi menuntut organisasi untuk setiap saat mengawasi kinerjanya.
2.
Meningkatkan
efisiensi dan keuntungan bagi organisasi dengan menghilangkan pekerjaan yang
tidak perlu atau mengurangi penyalahgunaan alat atau bahan.
3.
Menilai
derajat pencapaian rencana kerja dengan hasil aktual yang dicapai, dan dapat
dipakai sebagai dasar pemberian kompensasi bagi seorang pegawai.
4.
Mengoordinasi
beberapa elemen tugas atau program yang dijalankan.
5.
Meningkatkan
keterkaitan terhadap tujuan organisasi agar tercapai.
Manfaat Pengawasan
1.
Membantu
memaksimalkan keuntungan yang akan diperoleh organisasi
2.
Membantu
pegawai dalam meningkatkan produktifitas karena kesadaran akan kualitas dan
kuantitas output yang dibutuhkan
3.
Menyediakan
alat ukur produktifitas pegawai atau aktifitas yang objektif bagi organisasi
4.
Mengidentifikasi
beberapa hal yang membuat rencana tidak sesuai dengan hasil yang dicapai, dan
memfasilitasi pemodifikasiannya
5.
Membantu
pencapaian kerja sesuai tingkat atau deadline yang ditetapkan proses yang
dilakukan dalam pengawasan administrasi perkantoran
2. Pentingnya Pengawasan Pada Kantor
Pengawasan pada
kantor atau organisasi sangat penting karena dengan adanya pengawasan dapat
membantu kesalahan yang terjadi pada pekerjaan kantor dan juga dapat
meminimalisirkan kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan. Dan juga
ada beberapa faktor yang menjadikan pengawasan semakin dibutuhkan setiap kantor
atau organisasi. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut :
a. Perubahan lingkungan organisasi
Pada fungsi pengawasan, manajer atau pimpinan
melakukan pendeteksian terhadap perubahan yang dapat berpengaruh pada jasa dan
barang organisasi. Sehingga dengan pendeteksian ini organisai dapat
memanfaatkan kesempatan serta menghadapi tantangan yang diciptakan dari
perubahan yang telah terjadi.
b. Peningkatan
kompleksitas organisasi
Jika semakin besar organisasi maka akan semakin
besar pula organisai tersebut untuk membutuhkan pengawasan secara hati-hati dan
formal. Bermacam-mcam produk yang harus diawasi guna menjamin profitabilitas
dan kualitas agar tetap terjaga. Penjualan satuan pada para penyalur perlu
untuk di catat dan dianalisis secara tepat. Segala kegiatan pasar organisasi
baik luar dan dalam negeri selalu perlu untuk di monitor.
c. Kesalahan-kesalahan
Jika
pegawai suatu organisasi tidak pernah melakukan kesalahan maka manajer atau
atasan dapat melakukan fungsi pengawassan secara sederhana. Tetapi pada
nyatanya pegawai atau anggota organisasi sering membuat kesalahan seperti dalam
penentuan harga yang terlalu rendah, kesalahan dalam memesan barang, dan
masalah pada diagnosa yang tidak tepat. Pada sistem pengawasan memungkinkan
manajer dapat mengetahui kesalahan yang terjadi sebelum pengawasan tersebut
terjadi lebih dalam lagi.
d. Kebutuhan manajer untuk mendelegasikan wewenang
Jika
seorang manajer atau pimpinan mendelegasikan wewenang kepada bawahan maka tanggung
jawab yang dimiliki atasan tersebut tidak akan berkurang. Agar manajer dapat
mengetahui apakah bawahannya sudah melaksanakan tugas yang telah dilimpahkan
tersebut dapat dilakukan dengan cara mengimplementasikan sistem pengawasan. Tanpa
sistem pengawasan maka manajer
tidak dapat melakukan pemeriksaan apakah bawahan telah melaksanakan tugas.
Menurut Winardi
(2000:172) mengungkapkan bahwa: “pengawasan berarti membuat sesuatu terjadi,
sesuai dengan apa yang menurut rencana akan terjadi.
Perencanaan
dan pengawasan boleh dikatakan tidak dapat kita pisahkan satu sama lain, dan
mereka ibarat: kembar siam dalam bidang manajemen”.
Fungsi pengawasan dapat berjalan
secara efektif jika hal-hal dibawah ini diperhatikan:
·
Routing
(jalur)
Routing adalah penentuan cara atau
jalur mana pekerjaan itu dapat berjalan dan urutan pelaksanaan pekerjaan yang
diperlukan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan. Manajer harus bisa memilih cara guna untuk mengetahui letak dimana
sering terjadinya suatu kesalahan. Untuk kebanyakan kantor, rooting ditentukan
oleh prosedur yang digunakan.
·
Scheduling
(Penetapan waktu)
Scheduling adalah penentuan waktu
untuk urutan pekerjaan, penentuan mengenai kapan tiap pelaksanaan pekerjaan
dimulai dan kapan akan berakhir. Jumlah pekerjaan kantor yang dapat ditentukan
waktunya tergantung kepada keadaan individu, tetapi biasanya sebagian besar
pekerjaan kantor dapat ditentukan waktunya, misalnya membuat rekening, membuat
daftar, menulis pesanan, menyealin, dan sebagainya. Terkadang pengawasan yang
telah dijadwalkan tidak efisien untuk menemukan suatu kesalahan, sebaliknya
yang pengawsan yang dilakukan secara tiba-tiba atau mendadak terkadang malah
lebih berguna.
· Dispatching (Perintah pelaksanaan)
Dispatching adalah menggerakan dan
seperlunya meneruskan rencana, adalah pengawasan yang berupa suatu perintah
pelaksanaan pada pekerjaan yang bertujuan suatu pekerjaan itu bisa selesai
tepat waktu. dengan perintah seperti ini pelaksanaan suatu pekerjaan bisa
terhindar dari kondisi yang terkatung katung, jadi pada akhirnya bisa
diidentifikasikan siapa yang telah berbuat kesalahan
·
Follow
Up (tindak lanjut)
Follow Up merupakan suatu tindakan
jika pimpinan atau manajer menemukan kesalahan yang terjadi maka pimpinan atau
manajer tersebut mencari solusi dari permasalahan yang terjadi itu dengan
memberi peringatan kepada pekerja yang
melakukan kesalahan baik itu secara
sengaja ataupun tidak dan memberi arah dan petunjuk agar kesalahan yang sama
tidak terjadi lagi.
Pengawasan yang baik seharusnya
sesuai dengan sifat dan kebutuhan dari organisasi atau perusahaan. Jadi tata
perusahaan serta faktor-faktor dimana pengawasan itu dilakukan perlu
diperhatikan. Pengawasan yang baik dapat menjamin ada aktivitas perbaikan dan
ekonomis dari segi biaya. Maka perlu untuk dipersiapkan langkah-langkah sebelum
pengawasan dilakukan seperti rencana dan tata pola perusahaan.
3. Pekerjaan
Pengawas
Hal
utama yang menjadi dasar dalam pemilihan seorang pengawas adalah mempunyai
kesempatan yang cukup guna mengamati kinerja pegawai dalam periode waktu
tertentu. Beberapa orang yang dapat dijadikan penilai menurut Gomez-Mejia,
Balkin, dan Cardy (2003) adalah:
-
Supervisor, yang mempunyai kesempatan lebih banyak dan bertanggung jawab atas
kinerja langsung anak buahnya.
-
Teman sekerja, yang didasari atas kenyataan tidak setiap saat atasan dapat
memonitor kinerja anak buahnya, dan yang merasakan baik tidaknya kinerja
seorang pegawai adalah teman sekerjanya, terlebih mereka tergabung dalam sebuah
tim kerja.
-
Bawahan, merupakan salah satu umpan balik dalam proses pengawasan yang sangat
baik.
-
Menilai diri sendiri, kontrol terhadap diri sendiri ini juga baik sebagai bahan
konseling bagi pegawai dalam pemgembangan dirinya (Yu dan Murphy,1993).
-
Pelanggan, pengawasan yang dilakukan pelanggan akan menunjukkan seberapa puas
mereka terhadap layanan yang diberikan, terutama oleh pegawai yang dimaksud.
Hal ini juga akan meningkatkan loyalitas pelanggan, karena rasa memiliki
terhadap organisasi atau perusahaan tersebut(Ulrich,1989).
-
Komputer, merupakan salah satu pengawas terbaru pada administrasi perkantoran.
Komputer juga dapat digunakan untuk mengontrol penyelesaian pekerjaan seorang
pegawai dalam penyelesaian transaksi yang menggunakan sistem terintegrasi
(Nebeker dan Tatum, 1993), yang membuat Manajer Administrasi bisa menganalisis
kemacetan
penanganan
pelanggan terjadi pada bagian atau pegawai mana, sehingga bisa cepat dilakukan.
-
Umpan balik 360 derajat, ada beberapa alasan bagi popularitas penggunaan
pengawasan dari seluruh sisi ini (Waldman dan Atwater, 1993), yaitu penggunaan
kontrol dari dimensi yang berbeda dapat menangkap kompleksitas kinerja seorang
pegawai, kontrol dari atasan akan semakin kuat apabila semua pihak menyatakan
hal yang sama dan yang bersangkutan akan lebih menyadari kondisi kinerjanya
sekarang dan sebagainya
Dalam perencanaan, pekerjaan
pengawas meliputi :
a. Ikut serta merumuskan dan menentukan
tujuan-tujuan bagi kesatuannya.
b. Mengerti dan mengetahui pekerjaan
yang akan dilakukan.
c. Mengetahui dan menafsirkan kebijaksanaan-kebijaksanaan
perusahaan kepada pegawai.
d. Mengikuti perkembangan-perkembangan
baru.
Dalam pengawasan, pekerjaan pengawas
meliputi :
a. Mengikuti praktek-praktek dan
prosedur-prosedur yang telah ditentukan.
b. Menilai hasil kerja dipandang dari
sudut biaya.
c. Memeriksa ketelitian dan jumlah
pekerjaan.
d. Mengurangi sebanyak-banyaknya bahan
pekerjaan.
Dalam pengorganisasian, pekerjaan
pengawas meliputi :
a. Mendelegasikan pekerjaan kepada
orang-orang lain.
b. Membagi pekerjaan di antara
anggota-anggota kesatuannya.
c. Menempatkan pekerjaan yang sama
dalam kesatuan yang sama.
d. Menentukan hubungan-hubungan
kekuasaan yang layak diantara anggoata-anggota kesatuannya.
Dalam penggerakan, pekerjaan
pengawas meliputi:
a. Memberi informasi tentang
perubahan-perubahan kepada para pegawai.
b. Melatih pegawai-pegawai supaya
patuh.
c. Memajukan sistem magang.
d. Mendapatkan kerjasama dan
persesuaian di antara para pegawai.
e. Menambah niai para pegawai
B. PROSES YANG DILAKUKAN DALAM
PENGAWASAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
1.
Ada 3 Proses Yang Dilakukan Dalam Mengawasi Pekerjaan Administrasi Kantor:
a.
Mendefinisikan
parameter pekerjaan yang akan diawasi. Hal ini akan membantu pegawai mengetahui
tingkat kinerja yang diharapkan terhadap mereka dan secara efektif mencapainya.
b.
Memfasilitasi
kinerja yang hendak dicapai. Apabila proses pertama telah dilakukan, manajer
administrasi hendaknya memberikan feedback kepada pegawai mengenai apa yang
harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja mereka sesuai dengan target yang
ditetapkan. Pemberian umpan balik ini hendaknya diiringi dengan pemberian
fasilitas yang memadai bagi karyawan untuk mencapainya.
c.
Memotivasi
pegawai, yang harus dilakukan oleh manajer administrasi agar pegawai senantiasa
tertantang untuk mencapai target yang ditetapkan dan secara konsisten
mencapainya.
2.
Langkah-Langkah Dalam Pengawasan
Dalam
pengawasan terdapat proses-proses, proses tersebut ialah :
1.
Perencanaan Strategi (programming)
Pada
proses perencanaan ini perusahaan atau organisasi memilih program yang akan
mereka lakukan serta memperkirakan sumber daya untuk pengalokasian setiap
program yang sudah ditentukan.
2. Penyusunan Anggaran (budgeting)
Pada
proses penyusunan anggaran ini organisai merencanakan program secara
terperinci, dinyatakan dalam satu moneter untuk periode tertentu dan biasanya
pada hal ini dalam waktu satu tahun. Anggaran ini sesuai dengan anggaran yang
sudah dikumpulkan dari pusat pertanggung jawaban.
3. Pelaksanaan Anggaran (operating)
Pada proses pelaksanaan
anggaran ini yang dilakukan ialah pencatatan hal yang mengenai sumber daya yang
digunakan dan hasil dari penerimaan-penerimaan. Biaya dan catatan tersebut
dikelompokkan berdasarkan dengan program atau rencana yang
telah
ditentukan oleh pusat tanggung jawab. Pengelompokkan sesuai program atau
rencana digunakan sebagai landasan untuk program di pemrograman selanjutnya.
Dan untuk mengukur kinerja manajer yang digunakan ialah pengelompokkan sesuai
dengan pusat tanggung jawab.
4. Evaluasi Kinerja (analysis)
Digunakan
untuk mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan dan menganalisanya mengapa
bisa terjadi demikian, juga digunakan sebagai alat pengambilan keputusan bagai
manajer.
5. Tahap Pengambilan Tindakan Koreksi
Bila diketahui
dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan, dimana perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan.
Menurut Kadarman (2001, hal. 161) langkah-langkah
proses pengawasan yaitu:
a. Menetapkan
Standar
Karena perencanaan merupakan tolak ukur untuk merancang
pengawasan, maka secara logis hal irri berarti bahwa
langkah pertama dalam proses pengawasan adalah menyusun rencana. Perencanaan
yang dimaksud disini adalah menentukan standar.
b. Mengukur
Kinerja
Langkah kedua dalam pengawasan adalah mengukur atau
mengevaluasi kinerja yang dicapai terhadap standar yang telah ditentukan.
c. Memperbaiki
Penyimpangan
Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan
perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
C. MACAM-MACAM PENGAWASAN
Pengawasan
Kualitas
Sesuai dengan tujuannya, organisasi melakukan pengawasan
untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas sebuah aktifitas kerja di kantor
pada rentang waktu tertentu. Untuk menghasilkan pengukuran yang baik, evaluasi
harus didasarkan pada data yang akurat. Kontrol terhadap kualitas mencakup
evaluasi atas keakuratan pekerjaan yang dilakukan,
dan kontrol kuantitas lebih mengarah pada kuantifikasi
komponen-komponen evaluasi agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
Teknik Pengawasan Kualitas
Beberpa cara atau teknik yang dapat dilakukan dalam
melakukan pengawasan kualitas (Leonard dan Hilgert 2004) adalah :
1.
Inspeksi
total, berupa pengecekan menyeluruh terhadap seluruh unit kerja atau tugas yang
dilakukan oleh pegawai dan menjelaskan apakah standart kualitas minimum sudah
tercapai, dan bila belum, bagaimana memperbaikinya. Namun teknik ini kurang
efektif jika frekuensinya terlalu sering, apalagi tanpa alasan yang kuat,
karena pegawai akan merasa terlalu diawasi sehingga membuat suasana kerja tidak
kondusif.
2.
Pengecekan
pada area tertentu, dilakukan melalui pengecekan kinerja pegawai di suatu
departemen atau divisi tertentu, seperti departemen keuangan, yang dilakukan
secara periodik. Penggunaan komponen statistk akan menambah validitas data yang
diperoleh dalam fungsi pengawasan.
3.
Pengontrolan
kualitas dengan statistik. Apabila inspeksi total belum diperlakukan pengecekan
pada divisi tertentu tidak terlalu akurat, manajer administrasi dapat
menggunakan teknik ini dengan memakai data yang berbasis sample yang dipilih
untuk memfaliditas dan realibilitas hasil pengukuran.
4.
Kesalahan
nihil, merupakan teknik prefentif terhadap potensi kesalahan yang dilakukan
oleh pegawai sejak pertama kali mengerjakan tugasnya. Hal ini juga dapat
memotifasi pegawai untuk selalu bebas dari kesalahan. Ketika teknik ini
diterapkan, mereka seyogyanya diberikan imbalan yang setimpal atas tiadanya
kesalahan yang dilakukan dan peningkatan kinerja yang telah dilakukan.
Total
Quality Management
Program ini diimplementasikan untuk menjamin tercapainya
kualitas manajemen di organisasi. Menurut Quibel 2001 TQM sangat perlu
dilakukan dalam administrasi perkantoran berpijak pada :
1.
Kepuasan
pelanggan. Hal ini dianggap penting karena pelanggan yang puas akan menjadi
pelanggan yang loyal dan meningkatkan pendapatan bagi perusahaan.
2.
Pengukuran
statistik yang akurat. Setelah standart yang ditetapkan oleh organisasi dan
disosialisasikan ke seluruh bagian, keakuratan pengukuran hasil kerja mutlak
dipergunakan menghasilkan keputusan yang tepat berdasarkan data statistik
kinerja yang dilakukan pegawai.
3.
Perbaikan
secara terus-menerus terhadap produk maupun layanan yang diberikan. Hal ini
diperhatikan karena perbaikan terhadap produk atau jasa yang dianggap kurang
baik dilakuka secara kontinu lambat laun akan menghasilkan kualitas manajemen
dan memberikan kepuasan seluruh stakeholeders.
4.
Bentuk
hubungan baru dengan pegawai. Meningkatnya kebutuhan akan tim kerja
pemberdayaan pegawai merupakan bentuk hubungan baru yang dihasilkan dan
diimplementasikannya program TQM.
Pengawasan
Kuantitas
Standar kualitas
Untuk memulai pengontrolan, hendaknya organisasi mulai
dengan mengumpulkan data atau administrasi di kantor dan dijadikan dasar untuk
penetapan standar kuantitas pengukuran didesain untuk mendefinisikan dan
menggambarkan apa yang diharapkan dari pelaku sebuah kerja, baik dari pegawai
maupun dari pihak organisasi.
Mengontrol Fluktuasi
Untuk mengontrol fluktuasi pekerjaan kantor, bebrapa
tindakan yang dapat dilakukan antara lain :
1.
Over
time, banyak perusahaan yang menambah jam kerja atau lembur untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan dengan deadline yang terbatas atau karena volume pekerjaan
menumpuk.
2.
Temporary
help, jika penambahan jam kerja kurang memadai atau kurang tepat dilakukan,
pemakaian tenaga temporer dalam menghadapi peak season dapat dilakukan.
3.
Part-timer
help jika fluktuasi terjadi secara regular, menyewa tenaga paruh waktu juga
dapat dilakukan.
4.
Floating
work unit. Beberapa organisasi telah mengembangkan unit kerja yang akan dipakai
jika mereka memang diperlukan dalam penyelesaian proyek dengan volume kerja yang tinggi atau time limit yang terbatas.
5.
Cycle
biling. Banyak organisasi yang mempunyai jumlah pelanggan yang besar
mengimplementasikan teknik ini untuk mengurangi antrian layanan yang akan
dilakukan.
D. TIPE-TIPE DALAM PENGAWASAN
KANTOR
Adapun tipe-tipe pengawasan menurut Donnelly
(dalam Zuhad, 1996:302) mengelompokkan pengawasan itu menjadi 3 tipe, yaitu
sebagai berikut :
1.
Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).
2.
Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)
3.
Pengawasan Feed Back (feed back control)
Penjelasannya
sebagai berikut.
1. Pengawasan
Pendahuluan (preliminary control)
Pengawasan
yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan Pendahuluan menghilangkan
penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan yang dihasilkan sebelum
penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan Pendahuluan mencakup semua upaya
manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan
berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan.
Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan. Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang.
Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan. Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang.
Pengawasan
pendahuluan meliputi;
·
Pengawasan pendahuluan sumber daya
manusia
·
Pengawasan pendahuluan bahan-bahan
·
Pengawasan pendahuluan modal
·
Pengawasan pendahuluan sumber-sumber
daya financial.
2. Pengawasan pada saat kerja
berlangsung (cocurrent control)
Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan.
Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran
telah dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para
supervisor yang mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka.
Direction
berhubungan dengan tindakan-tindakan para manajer sewaktu mereka berupaya
untuk:
•
Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode¬-metode serta
prosedur-prsedur yang tepat.
•
Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
3. Pengawasan
Feed Back (feed back control)
Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang
telah dilaksakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak
sesuai dengan standar. Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional
dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya
atau operasi-operasi aktual. Sifat kas dari metode-metode pengawasan feed back
(umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal,
sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang.
Adapun
sejumlah metode pengawasan feed back yang banyak dilakukan oleh dunia bisnis
yaitu:
·
Analysis Laporan Keuangan (Financial Statement
Analysis)
·
Analisis Biaya Standar (Standard Cost Analysis)
·
Pengawasan Kualitas (Quality Control)
·
Evaluasi Hasil Pekerjaan Pekerja (Employee
Performance Evaluation)
E. UNSUR PENGAWASAN
Menurut Quible (2001), jika
unsur-unsur dibawah ini dihilangkan maka akan berpengaruh terhadap proses
pengawasan yang kurang optimal, unsur tersebut ialah :
1.
Faktor yang diawasi. Sebelum pengawasan dilakukan, pengawas sebaiknya diberikan
pemahaman mengenai faktor apa yang akan diawasi.
2.
Melakukan identifikasi terhadap hasil yang telah
diharapkan. Mengindentifikasi
parameter yang kurang atau tidak jelas mengenai hasil yang diinginkan.
3.
Pengukuran terhadap kinerja. Sebelum membandingkan hasil yang aktual dengan hasil yang
diharapkan, hasil aktual terlebih dahulu harus diukur.
4.
Melakukan pembenahan. Jika hasil aktual kurang atau lebih kecil dari hasil yang
diharapkan, sebaiknya melalukan koreksi untuk mengurangi gap yang
terjadi.
F. KARAKTERISTIK
KEGIATAN PENGAWASAN
a.
Teliti. Keterangan
mengenai dilakukannya kegiatan haruslah tepat dan sesuai. Data yang tidak
sesuai dan terjadi keesalahan dari pengawasan dapat mengakibatkan perusahaan
atau organisasi melakukan tindakan yang salah dan bahkan menimbulkan sebuah
masalah yang seharusnya tidak terjadi.
b.
Tepat waktu. Data yang dibutuhkan haruslah dikumpulkan,
disampaikan serta di nilai dengan sesegera mungkin dan tepat waktu.
c.
Faktual dan mencakup semuanya. Data haruslah
dapat dipahami dengan mudah dan bersifat nyata atau factual serta lengkap.
d.
Terpusat pada pengawasan yang strategik. Pengawasan
haruslah memusatkan perhatian pada kesalahan atau kecurangan yang sering
terjadi dari ketentuan yang
e.
telah ditetapkan atau memusatkan perhatian dari
hal hal yang dapat menimbulkan kerusakan yang fatal.
f.
Nyata secara ekonomis. Dalam
pengawasan biaya pelaksanaannya haruslah lebih rendah paling tidaknya sama
dengan biatya yang telah ditetapkan.
g.
Nyata secara organisasi. Pengawasan harusnya seusai dengan kenyataan organisai.
h.
Selaras atau serasi dengan aliran kerja di organisai. Data atau
informasi dari pengawasan haruslah serasi dengan aliran kerja, sebab setiap
tahap pekerjaan dapat
i.
mempengaruhi keberhasilan serta kegagalan dari
seluruh pekerjaan dan berita mengenai pengawasan haruslah sampai kepada seluruh
pegawai yang membutuhkannya.
j.
Luwes. Pengawasan haruslah memiliki keluwesam untuk
menyampaikan pendapat dan tanggapan terhadap ancaman dari lingkungan.
k.
Berkarakter menjadi pengarah dan operasional. Pengawan yang
efektif harus memperlihatkan deteksi dari ketetapan, tindakan penilaian yang
mana yang harusnya digunakan.
l.
Diterima oleh anggota organsasi. Pengawasan
harus dapat memandu pelaksanaan kerja anggota organisasi dengan cara mendorong
perasaan tanggung jawab, berprestasi, dan perasaan otonomi.
G. METODE PENGAWASAN ALTERNATIF
Beberapa isu strategi perlu dipertimbangkan oleh Manajer
Administrasi dalam melaksanakan fungsi pengawasan, seperti tujuan dari
pelaksanaan control, keprcayaan terhadap system control, sikap manajer dan
pegawai, frekuensi pelaksanaan, dan sumber juga data yang digunakn untuk
pegawai. Selain dua pengawasan di atas, Cascio (2003) juga mengajukan dua
metode pengawasan alternative, yaitu:
1.
Behavior
– oriented rating methods, yang merupakan metode penilain kinerja yang
berorientasi pada perilaku pegawai, dengan membandingkan kinerja karyawan yang
satu dengan yang lain. Ada 4 teknik yang dapat digunakan:
·
Teknik
deskripsi. Penilai memberikan deskripsi terhadap bawahanya mengenai kekuatan,
kelemahan, dan potensi dari pegawai yang dinilai.
·
Teknik
ranking, dengan menyebutkan pegawai nama yang berkinerja paling bagus.
·
Behavioral
checklist, yaitu teknik yang menyediakan daftar perilaku yang berkaitan dengan
pekerjaan, dan tugas penilai adalah memilih pernyataan mana yang sesuai dengan
kondisi kerja pegawai.
·
Behaviorally
anchored rating scales (BARS), merupakan variasi dari teknik sebelum keuntungan
utama dari teknik ini adalah adanya pendeskripsian perilaku mana yang dapat
dikategorikan sebagai prestasi kerja yang memuaskan, sedang-sedang saja dan
kurang memuaskan.
2.
Resulst
–oriented rating methods, merupakan metode yang menitik bertakan pada hasil
dari kerja
yang dibebakan
kepada pegawai. Ada 2 teknik yang digunakan, yaitu
·
Management
by objectives, yang didasarkan pada penetapkan tujuan bagi organisasi secara
keseluruhan, bagi masing-masing departemen atau divisi, maupun masing-masing
pegawai.
·
Work
planning dan review, menitikberatkan pada periodisitas penilaian rencana kerja
oleh tim penilai dan bawahan untuk mengidentisifikasi tujuan yang tercapai,
masalah yang harus dipecahkan, dan traning yang diperlukan.
![]() |
Soal Pilihan Ganda!
Berilah tanda (x) silang pada a,b,c,
d dan e pada jawaban yang paling tepat!.
1. Pengawasan ialah suatu usaha yang terbagi menjadi memantau
apakah segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan dengan rencana yang telah
ditentukan, petunjuk yang telah dibagikan atau diberikan, dan prinsip-prinsip
yang telah ditentukan. Sangat penting untuk mengetahui kesalahan yang terjadi
guna untuk diperbaiki dan dicegah agar tidak terulang kembali.” merupakan
defenisi pengawasan perkantoran Menurut ahli....
a.
EFL Breach
b.
Henri Fayol
c.
Admosudirdjo
d.
James A. Ramos
e.
George R. Tery
2. Faktot-faktor
yang menjadikan pengawasan semakin dibutuhkan setiap kantor atau
organisasi, kecuali....
a.
Perubahan
lingkungan organisasi
b.
Peningkatan
kompleksitas organisasi
c.
Kesalahan-kesalahan
d.
Kebutuhan
manajer untuk mendelegasikan wewenang
e.
Kemunduran produktivitas
3. Dalam perencanaan, pekerjaan pengawas meliputi, kecuali...
a.
Ikut
serta merumuskan dan menentukan tujuan-tujuan bagi kesatuannya.
b.
Mengerti
dan mengetahui pekerjaan yang akan dilakukan.
.
c.
Mengetahui
dan menafsirkan kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan kepada pegawai
d.
Tidak peduli pada hal yan sedang di kembangkan
e.
Mengikuti
perkembangan-perkembangan baru.
4. Dalam proses
pengawasan kantor ada 3 proses yang dilakukan dalam mengawasi pekerjaan
administrasi kantor. Bagian mendefinisikan parameter pekerjaan yang akan
diawasi, menekankan pada hal.....
a.
Hal ini akan membantu pegawai mengetahui tingkat
kinerja yang diharapkan terhadap mereka dan secara efektif mencapainya.
b.
Mengerjakan pekerjaan lebih efektif.
c.
Fasilitas umum pekerjaan tersedia.
d.
Memotivasi karyawan agar semangat dalam bekerja.
e.
Tidak bolos dalam bekerja.
5. Dalam karakteristik kegiatan pengawasan harus
dapat memandu pelaksanaan kerja anggota organisasi dengan cara mendorong
perasaan tanggung jawab, berprestasi, dan perasaan otonomi. Merupakan
karakteristik dalam hal...
a.
Berkarakter menjadi pengarah dan operasional
b.
Nyata secara ekonomis.
c.
Faktual dan mencakup semuanya.
d.
Diterima oleh anggota organsasi.
e.
Terpusat pada pengawasan yang strategik.
Essai!
Jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar!.
1. Defenisi
pengawasan perkantoran Menurut Admosudirdjo adalah....
2. Sebutkan dan jelaskan fungsi
pengawasan agar dapat berjalan secara efektif jika hal-hal ini diperhatikan...
3. Dalam pengawasan, pekerjaan pengawas
meliputi hal-hal berikut sebutkan....
4. Tuliskan dan jelaskan langkah-langkah dalam
pengawasan......
5. Tuliskan
dan jelaskan macam-macam pengawasan...
![]() |
Manulang, Ratna. 2018. Diktat
Administrasi Perkantoran. Medan : Fakultas Ekonomi
The Liang Gie. 2008. Administrasi
Perkantoran Modern. Yogyakarta : Liberty







Komentar